Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama UNESCO prihatin dengan pengelolaan air keberlanjutan di masa depan. Kepala LIPI Lukman Hakim mengungkapkan bahwa kualitas air global saat ini telah turun dan terdapat kerugian signifikan berkaitan dengan keanekaragaman hayati yang berdampak pada ekosistem global.
"Tren semacam ini memberikan cukup bukti bahwa pendekatan konvesional untuk pengelolaan sumber daya air tidak cukup untuk membendung krisis air," kata Lukman dalam peringatan Hari Air Internasional di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Selasa (22/3/2011).
Pengelolaan konvesional, kata Lukman, berdasarkan penerapan teknik rekayasa, intervensi sektoral dan penghapusan ancaman langsung seperti polusi titik sumber air. Dia menjelaskan solusi dari permasalahan itu dengan menggunakan ekohidrologi yakni ilmu yang melibatkan pencarian solusi bagi isu seputar air, manusia, dan lingkungan. "Ini berarti penekanan utama pada siklus hidrologi beserta pengaruhnya terhadap proses ekologi dan kesejahteraan manusia," imbuhnya.
Lukman Hakim menambahkan adanya Ecohydrology Programme (EHP) perlu mendapat perhatian dengan berfokus pada pengetahuan yang lebih baik tentang hubungan timbal balik antara siklus hidrologi dan ekosistem yang dapat memberi kontribusi terhadap pengelolaan biaya yang efektif dan ramah lingkungan.
"Tujuan EHP adalah untuk mengurai kesenjangan pengetahuan dalam penanganan masalah yang berkaitan dengan krisis air," ujarnya.
Sementara itu, Direktor UNESCO Jakarta, Hubert Gijzen menjelaskan tentang peranan air bagi kehidupan antara lain ketahanan pangan, energi, alam, rekreasi dan pariwisata. "Air untuk kehidupan," katanya.
Namun, Hubert juga mengingatkan air dapat menjadi pembunuh utama apabila tidak dapat mengelola dengan baik. "Kita perlu mengubah cara untuk menangani air di perkotaan dengan segera dan radikal guna mencegak kota-kota yang kehausan karena kurangnya pelayanan air," ujarnya.
sumber




0 comments:
Post a Comment